KESABARAN SALAF DALAM MENGHADAPI FITNAH (Bag. II)

KESABARAN SALAF DALAM MENGHADAPI FITNAH

Bagian dua (selesai)…

Syaikh Shalah Kentusy Al-Futaini hafizhahullah

Jika kita lihat sejarah Nabi ﷺ , kita mendapati berbagai sabarnya beliau dalam berbagai ujian dan cobaan.
Kesabaran Nabi ﷺ sangatlah banyak sekali. Jika kita melihat sejarah beliau, maka sangat banyak keteladanan dalam kesabaran beliau. Hal itu mengingatkan kita dalam sabda beliau :

َعَنْ أَبي هُرَيْرةَ قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّهِ ﷺ: مَا يَزَال الْبَلاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمؤمِنَةِ في نَفْسِهِ وَولَدِهِ ومَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّه تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خطيئة

“Senantiasa ujian dan cobaan menimpa mukmin mukminah dalam jasadnya tubuhnya dan keluarganya sehingga dia menghadap Allah tiada lagi punya dosa.”
(HR. Tirmidzi)

Beliau bersabar tatkala musibah menimpa jasad beliau keluarga dan harta beliau. Contoh musibah yg menimpa rumah tangga beliau, tatkala orang munafik menuduh istri Nabi ﷺ yg sangat beliau cintai, seorang wanita suci dan disucikan oleh Allah, disebarkan isu dusta oleh kaum munafikin kalau beliau berzina. Isu terus tersebar, sementara wahyu tidak segera turun. Benar benar Nabi ﷺ sangat sedih dengan isu dusta yg berkembang di Madinah. Dengan kesabaran beliau, akhirnya Allah menurunkan Wahyu yg berisi pembersihan Ummul mukminin dari tuduhan keji yg disebarkan oleh kaum munafikin. Dengan diturunkan surat An-Nuur 11-21.
Allah karuniakan jalan keluar kepada beliau berkat kesabaran beliau dan kesabaran sang isteri dan kesabaran ayahnya dan ibu Aisyah radhiyallahu anhum. Sampai Rasul ﷺ mengatakan :

“Wahai sekalian kaum muslimin siapa yg bisa membantuku menghadapi seorang yg menyakitiku dengan menuduh isteriku. Padahal saya tidak mengetahui dari istriku kecuali kebaikan.”
(HR. Bukhari)

Sayangnya, sekalipun Allah sudah membersihkan ummul mukminin dari tuduhan dusta kaum munafikin, tapi masih ada sampai sekarang suatu kaum yg terus menyebarkan tuduhan jelek tadi, yakni kaum rafidhah.

Maka dari apa yg telah lalu, ada pelajaran penting untuk kita selalu bersabar dalam menghadapi berbagai fitnah. Bahkan para sahabat secara umum tetap bersabar dan mereka tidak hanyut dalam berita dusta.

Diantara contoh kesabaran salaf adalah Imam Ahmad. Perjalanan hidup beliau sebagai seorang sabar dan tegar dalam mempertahankan prinsip ahlussunnah. Fitnah yg terjadi adalah sangat dahsyat, yakni pemaksaan agar mengakui Alquran itu makhluk. Semantara Alquran itu adalah kalamullah dan bukan makhluk. Orang mutazilah mengatakan Alquran makhluq. Di masa itu kaum mu’tazilah memiliki posisi dan didengar ucapannya oleh penguasa. Sampai sampai penguasa menjadikan pemahaman mu’tazilah terkait Al-Quran harus ditanamkan kepada masyarakat. Mewajibkan ulama mengajarkannya kepada umat di halaqah-halaqah. Yg tidak mau akan berhadapan dengan cambuk, pedang dan siksaan.
Ketika itu penguasanya bernama Al-Makmun, dia dipengaruhi oleh kaum jahmiyah dan mendukung segala kegiatan kaum sesat itu. Segala yg dibisikkan kepada penguasa menjadi keputusan penguasa. Satu demi satu dari ulama ditanya bagaimana pendapatmu tentang alquran. Jika mengatakan Al-Quran itu kalamullah, maka ia dibunuh.
Imam Ahmad bersama para ulama bersabar menghadapi fitnah ini, tetap istiqamah dalam prinsip ini. Beliau terus menjelaskan akan kesalahan jahmiyah. Semua itu mengandung resiko berat. Para ulama mengalami ujian yg sangat besar, Ibnu Nashr Al-khuza’i dan Imam Ahmad tetap kokoh walaupun ujian begitu berat. Walaupun cambuk, pedang dan sebagainya ditimpakan, mereka tetap kokoh menjalankan agama ini.
Al-Makmun dengan kekuatannya terus memaksakan keyakinan itu, akhirnya satu demi satu ulama ketika itu mengikuti kemauan Al-Makmun.
Berbeda Imam Ahmad dan muridnya Muhammad bin Nuh, mereka tetap bersabar. Beliau dibelenggu oleh para tentara berjalan dari daerah Tursus kemudian ke Raqqah untuk dihadapkan kepada Al-Makmun. Sampai di daerah Raqqah, terdengar berita Al-Makmun mati digantikan saudaranya Al-Mu’tashim. Dia ternyata sama dengan kakaknya dalam memaksa umat untuk mengikuti pendapat Al-Quran itu makhluk. Imam Ahmad terus bersabar. Hingga Al-Mu

‘tasim meninggal, lalu digantikan Al-Watsiq dan ternyata dia juga sama dengan dua saudaranya. Dan dia dekat dengan Ibnu Abi Du’ad, gembong Mu’tazilah. Saking bencinya dengan Imam Ahmad, ia melarang imam Ahmad berkumpul dengan manusia, dan melarang berdiam di tempat yg Al-Watsiq ada di sana. Beliau dikurung di rumah, shalat di rumah dan sebagainya.

Fitnah yg dahsyat tadi tidak menggoyahkan beliau dari prinsip ahlussunnah. Hingga akhirnya Allah memberikan jalan keluar bagi ahlussunnah dengan matinya Al-Watsiq dan diganti oleh Al-Mutawakkil, yg berbeda dengan sikap tiga orang sebelumnya. Beliau memuliakan imam Ahmad dan ulama yg diatas sunnah, dan beliau menghinakan kaum muktazilah. Di masa Al-Mutawakil Ahlussunnah betul betul terhormat semua itu berkat kesabaran para ulama seperti Imam Ahmad dalam berpegang dengan sunnah.

Imam Ahmad pernah dicambuk keras sekali, sampai tukang pukulnya pernah mengatakan :
“Sungguh dia telah dipukul dengan pukulan jika dipukul kepada onta niscaya akan mati.”

Secara fisik onta tersebut lebih kuat. Namun apakah cambukan keras tadi menjadikan beliau mngatakan alquran makhluk? Beliau tetap tegar, sekalipun beliau mendapatkan siksaan yg dahsyat tersebut.
Kalau kita perhatikan salaf shalih, betapa sabarnya mereka dalam berpegang teguh dengan sunnah, kita akan mendapat banyak pelajaran.
Bayangkan, bagaimana sekiranya mereka begitu mudah mau menjual prinsip mereka dengan prinsip batil? Tentu umat akan berada dalam kesesatan.
Akan tetapi tatkala mereka begitu tegar mempertahankan prinsip, maka umat mendapatkan kemanan. Kita semua tahu, prinsip Al-Quran makhluk adalam batil, dan ahlussunnah meyakini Al-Quran bukan makhluk tapi Kalamullah. Dan Kalamullah adalah sifat Allah, sebagaimana Allah memiliki sifat selain Al-Kalam. Memang Allah Ta’ala yg menjaga agama ini, diantara bentuk penjagaan Islam adalah Allah munculkan di tengah umat tokoh-tokoh yg tegar dan membela kebenaran, walaupun menghadapi berbagai ujian berat. Diantaranya imam Ahmad rahimahullah. Luar biasa perjalanan beliau dalam mempertahankan prinsip ahlussunnah. Agar menjadi teladan bagi kita semua agar kita berteguh diri dalam menjalankan agama.
Semoga Allah menempatkan mereka di surga firdaus dan semoga Allah mempertemukan kita semua dengan mereka di surga.

Amiin..

? Petikan Faedah Dari Syaikh Shalah Kentusy Al-Futaini hafizhahullah
pada Sesi Ketiga Daurah Masyayikh di JIC Sabtu, 7 Muharram 1441 H

⏩|| Grup Whatsapp Ma’had
Ar-Ridhwan Poso

?||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.