TIDAK BOLEH MEMASTIKAN INDIVIDU TERTENTU MASUK SURGA, SEKALIPUN ANAK-ANAK KAUM MUSLIMIN YANG MENINGGAL DUNIA
⚖📍🔏 TIDAK BOLEH MEMASTIKAN INDIVIDU TERTENTU MASUK SURGA, SEKALIPUN ANAK-ANAK KAUM MUSLIMIN YANG MENINGGAL DUNIA.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahumullah
Persiapan:
Saya membaca dalam kitab “Syifa’ al-‘Alil” sebuah riwayat dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika ada seorang anak meninggal dunia. Ia berkata, “Berbahagialah engkau, engkau berada di burung surga.” Nabi ﷺ bersabda, “Bagaimana engkau tahu, Aisyah, bahwa ia ada di surga? Bisa jadi Allah melihat apa yang ia lakukan?”
Dan Nabi ﷺ bersabda, “Catatan pena itu diangkat dari tiga orang,” salah satunya beliau menyebutkan:
“Anak kecil sampai dia dewasa,”
Dua riwayat ini shahih, bagaimana cara mengkompromikannya?
Jawaban :
Hadits ini shahih riwayat Bukhari Muslim. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Seekor burung dari burung-burung surga.” Nabi ﷺ bersabda:
يا عائشة إن الله خلق للجنة أهلا خلقهم لها وهم في أصلاب آبائهم
“Wahai Aisyah, Allah telah menciptakan untuk surga para penghuninya, Dia ciptakan mereka untuk surga ketika mereka masih dalam tulang rusuk ayah mereka.”
[HR. Muslim]
Maksud hadits ini adalah melarang Aisyah memastikan masuknya seseorang ke Surga atau Neraka, sekalipun untuk seorang anak kecil, tidak boleh memastikannya masuk surga, karena terkadang ia mengikuti kedua orang tuanya, bisa jadi kedua orang tuanya itu bukan muslim sekalipun lahiriahnya mereka Islam.
Bisa jadi ayahnya menampakkan dirinya Islam tapi munafik, dan ibunya bisa jadi lahiriahnya Islam tapi munafik.
Oleh karena itu, ia tidak boleh memastikan seseorang masuk Surga atau Neraka, sekalipun seorang anak kecil. Tidak boleh dikatakan: “Anak ini adalah penghuni Surga, karena ia tidak mengetahui keadaan orang tuanya, dan anak-anak itu mengikuti kondisi orang tua mereka.
Dan barangsiapa yang meninggal masih kecil dan bukan penganut ajaran Islam, maka ia akan diuji pada Hari Kiamat, menurut pendapat yang lebih shahih. Jika ia lahir bukan dari keluarga muslim melainkan dari keluarga kafir, maka ia akan diuji pada Hari Kiamat. Jika ia taat, ia akan masuk Surga, jika ia durhaka, ia akan masuk Neraka, sebagaimana orang-orang di zaman fatrah (diantara) para nabi.
Pendapat yang benar, mereka akan diuji, dan demikian juga anak-anak. Oleh karena itu, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anaknya orang musyrik yg mati, beliau bersabda:
الله أعلم بما كانوا عاملين
“Allah lebih mengetahui apa yang mereka perbuat.”
[HR. Bukhari]
Ada riwayat hadits yang menunjukkan kalau mereka akan diuji, artinya mereka akan diuji pada Hari Kiamat. Mereka diperintahkan untuk berbuat sesuatu. Jika mereka taat, mereka akan masuk Surga, dan jika mereka durhaka, mereka akan masuk Neraka.
Maksudnya, tidak boleh bersaksi bahwa seseorang berada di surga atau neraka, kecuali orang-orang yang telah disaksikan oleh Rasulullah ﷺ. Ini merupakan salah satu kaidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Nabi ﷺ mengingkari Aisyah radhiyallahu ‘anha karena ia telah bersaksi memastikan individu tertentu, karena ia mengatakan, “Anak tersebut berada di seekor burung dari burung-burung surga.”
Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengingkarinya mengatakan hal itu, karena bisa jadi di balik itu, ada sesuatu yang menjadi sebab ia tidak masuk surga.
Dan ia akan diuji pada Hari Kiamat karena kedua orang tuanya bukan muslim.
Adapun anak-anak Muslim, menurut Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, mereka akan mengikuti orang tua mereka di surga. Namun, anak-anak orang kafir akan diuji pada Hari Kiamat, dan ini adalah benar. Barangsiapa yang taat pada Hari Kiamat akan masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka akan masuk neraka, seperti orang-orang di masa antara para nabi. Ini adalah pendapat yang benar, dan inilah makna hadis tersebut.
📑 Majmu’ Al-Fatawa 25/122-124
⏩|| Saluran Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso
https://chat.whatsapp.com/EDSPbabz7ZjD7HwNvYWslK
💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo