Aqidah

PEMBAHASAN SINGKAT TERKAIT KALIMAT “KALAU SEANDAINYA”

🚦💦🌹 PEMBAHASAN SINGKAT TERKAIT KALIMAT “KALAU SEANDAINYA”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah :

Pertanyaan :

Apa hukum memakai ungkapan “kalau seandainya”?

Jawaban :

Pemakaian kata “kalau seandainya” itu ada rincian sebagai berikut :

1⃣ Kalau yang dimaksud adalah semata-mata pengkabaran, maka ini tidak mengapa, seperti seorang mengatakan kepada orang lain : Kalau seandainya engkau mengunjungiku, niscaya aku akan memuliakanmu. Atau mengatakan : Kalau seandainya aku mengetahui dirimu, niscaya aku akan mendatangimu.

2⃣ Yang dimaksud dengannya adalah sebuah angan-angan, maka ini sesuai dengan apa yang di angan-angankan. Kalau yang di angan-angankan adalah perkara kebaikan, maka dia dapat pahala dengan niatnya, dan jika yang diangan-angankan itu adalah selain daripada itu, maka sesuai dengan angan-angannya.

Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang memiliki harta yang diinfakkan di jalan Allah dan jalan kebaikan, dan seorang yang lainnya tidak memiliki harta. Kemudian dia mengatakan : Kalau seandainya aku memiliki harta seperti Si Fulan, niscaya aku akan beramal seperti apa yang diamalkan oleh fulan.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda :

هما في الأجر سواء

“Keduanya dari sisi pahala sama.”

Kemudian yang kedua, ada seorang yang memiliki harta tapi dia menginfakkannya pada perkara yang tidak baik, kemudian ada laki-laki yang lainnya mengatakan : “Kalau seandainya aku memiliki harta seperti fulan, niscaya aku akan berbuat seperti perbuatan fulan.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda :

هما في الوزر سواء

“Keduanya dari sisi dosa sama.”

Maka kalimat kalau seandainya (لو) apabila dipakai untuk berangan-angan, hukumnya sesuai dengan apa yang diangankan oleh hamba, kalau berupa kebaikan maka itu baik, kalau dia berangan-angan dari selain itu maka hukumnya sesuai dengan yang diangankan.

3⃣ Kalau yang dimaksud dengannya adalah penyesalan terhadap apa yang telah berlalu, maka ini yang dilarang. Karena itu tidak berfaedah sedikitpun dan semuanya itu akan bisa membuka pintu kesedihan dan penyesalan. Dalam hal ini Rasulullah ﷺ bersabda :

الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شَيءٌ، فلا تَقُلْ: لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ؛ فإنَّ (لو) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah tapi dalam setiap mereka ada kebaikan. Maka bersemangatlah engkau dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah engkau lemah. Kalau engkau tertimpa sesuatu, maka janganlah kau mengatakan : Kalau seandainya aku berbuat begini, niscaya akan begini. Karena kata “kalau seandainya” akan membuka amalan setan.”
[HR. Muslim]

Dan hakikatnya sesungguhnya itu tidak ada faedahnya, karena seorang itu melakukan apa yang diperintahkan padanya dari usaha-usaha yang bermanfaat baginya, akan tetapi tatkala takdir dan ketentuan Allah berbeda dengan apa yang diinginkan, maka kalimat “seandainya” pada keadaan ini itu akan bisa membuka pintu penyesalan dan kesedihan.

Oleh karena itu Rasulullah ﷺ melarang dari hal ini, karena Islam tidaklah menyukai seorang insan untuk terus bersedih dan berduka.
Akan tetapi Islam menginginkan agar seseorang itu lapang dadanya, berbahagia dan bisa selalu tersenyum.

📑 Majmu’ Al-fatawa 3/127-128

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo