TIGA TAHAPAN AKIDAH YANG DIJALANI IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI RAHIMAHULLAH

🍃🌻 TIGA TAHAPAN AKIDAH YANG DIJALANI IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI RAHIMAHULLAH

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah :

Mereka-mereka ini (kelompok Asyaa’irah) yang menisbatkan diri sebagai pengikut Abul Hasan Al Asy’ari mereka tidak meneladani beliau dengan peneladanan yang semestinya.
Yang demikian ini karena sesungguhnya Abul Hasan Al-Asy’ari dulu memiliki tiga tahapan dalam hal aqidah :

1⃣ Tahapan yang pertama : Tahapan menjadi seorang mu’tazilah.
Dia memeluk mazhab mu’tazilah selama 40 tahun dia menguatkannya dan berdebat di atasnya.
Kemudian dia rujuk meninggalkan pemikiran ini, kemudian beliau dengan terang-terangan menganggap sesat ajaran mu’tazilah, dan sangat berlebihan di dalam membantah mereka.

2⃣ Tahapan yang kedua : Tahapan antara muktazilah yang murni dan ahlussunnah yang murni. Beliau menempuh jalan Abu Muhammad Abdullah bin Said bin kullab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al-Fatawa jilid 16 hal 471 mengatakan :

Al-Asy’ari dan yang semisalnya sempat mencampur antara mazhab Salaf dan madzhab Jahmi’ah, mereka mengambil perkataan yang benar dari orang-orang ini (para salaf) dan mengambil dari orang-orang ini (jahmiyah) dasar-dasar akidah, dan mereka menyangka ini adalah kebenaran, padahal ini adalah rusak.”

3⃣ Tahapan yang ketiga : adalah tahapan memeluk mazhab Ahlussunnah dan ahlul Hadits, beliau meneladani Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, sebagaimana beliau menetapkan hal ini dalam kitabnya yang berjudul Al-Ibanah ‘an Usulid Diyanah dan itu adalah Kitab terakhir yang beliau tulis.

Beliau menyebutkan di dalam kitab tersebut prinsip-prinsip Ahli bidah dan beliau berisyarat akan kebatilannya.

Beliau rahimahullah menyebutkan:

Pendapat kita yang kita pegangi, yang kita jadikan agama, adalah berpegang dengan kitab Allah dan sunnah Nabi kita ﷺ dan apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabiin dan imam-imam ahlul Hadits, dan kami berpegang teguh dengannya dan dengan apa yang diucapkan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin hambal, semoga Allah mencerahkan wajahnya dan mengangkat derajatnya dan memperbesar pahalanya, mereka mengatakan dan bagi orang-orang yang menyelisihi ucapan beliau maka dijauhi, karena beliau adalah Imam yang utama, pemimpin yang sempurna.

Kemudian beliau memuji Imam Ahmad dengan apa yang Allah tampakkan Kepada beliau dari kebenaran dan beliau menyebutkan penetapan sifat-sifat Allah, masalah-masalah takdir, syafaat dan sebagian dalil-dalil dan beliau menetapkan hal itu dengan dalil-dalil naqli dan akal.

Dan orang-orang belakangan yang menisbatkan diri kepada beliau (yakni kelompok Asyaa’irah) mereka hanya mengambil pada tahapan yang kedua dari tahapan-tahapan aqidah beliau, dan mereka berpegang teguh dengan jalannya ahli ta’wil dalam kebanyakan sifat, mereka tidak menetapkan sifat kecuali tujuh yang disebutkan dalam bait syair :

Maha Hidup, Maha Berilmu, Maha Kuasa, Sifat Kalam, Iradah (kehendak), demikian juga Mendengar dan Melihat.

Atas perbedaan antara mereka dengan Ahlussunnah di dalam cara menetapkannya.

📑 Disadur dari Majmu Al-fatawa 3/335-338

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo