KETABAHAN DAN KESETIAAN ISTRI NABI AYYUB DALAM MERAWAT SUAMINYA YANG LAMA SAKIT.
🌹🌤 🌷 KETABAHAN DAN KESETIAAN ISTRI NABI AYYUB DALAM MERAWAT SUAMINYA YANG LAMA SAKIT.
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah
Al-Suddi rahimahullah berkata: “Tubuh Nabi Ayyub berjatuh-jatuhan dagingnya hingga yang tersisa tinggal urat dan tulangnya. Namun istrinya terus merawatnya dan membawakan bekal makanan untuk suaminya. Ketika sakitnya semakin bertambah lama, istrinya berkata kepadanya: ‘Wahai Ayyub, mengapa engkau tidak berdoa kepada Tuhanmu untuk menyembuhkanmu?'”
Beliau menjawab, “Aku telah hidup selama tujuh puluh tahun dalam keadaan sehat. Apakah terlalu sedikit bagi Allah jika aku bersabar kepada-Nya selama tujuh puluh tahun?”
Sang istri pun terkejut lalu pergi.
Sang istri selalu bekerja kepada orang lain demi upah, lalu ia membawa kepada suaminya apa pun yang ia peroleh dan memberinya makan.
Suatu hari iblis berangkat menemui dua orang Palestina yang menjadi dulu sahabat dan saudara Nabi Ayyub. Ia mendatangi mereka berdua dan berkata, “Sesungguhnya saudaramu Ayub telah tertimpa musibah ini dan itu, maka pergilah kepadanya, jenguklah dia, dan bawalah minuman anggur (khamer) dari negeri kalian. Jika ia meminumnya, ia pasti akan sembuh.”
Maka mereka berduapun datang menjenguknya, dan ketika mereka melihatnya, mereka menangis. Ayyub bertanya, “Siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah si fulan dan si fulan!” Maka Ayyub pun menyambut mereka.
Dan Ayyub berkata: Selamat datang bagi mereka yang tidak berpaling dariku ketika aku mengalami musibah begini.”
Mereka berkata: Wahai Ayub, mungkin engkau menyembunyikan sesuatu dan menampakkan sesuatu yang lain, dan karena itulah Allah menimpakan kepadamu sakit?
Lalu Ayyub menengadah ke langit sembari berkata: “Dia Maha Mengetahui. Aku tidak menyembunyikan sesuatu dan tidak menampakkan sesuatu yang lain. Tetapi Tuhanku mengujiku untuk melihat apakah aku akan bersabar atau tidak sabar.”
Lalu mereka berkata kepadanya, “Wahai Ayub, minumlah anggur kami ini, sebab jika engkau meminumnya, engkau akan sembuh.”
Maka marahlah Ayub lalu berkata, “Si jahat datang kepada kalian dan memerintahkan kalian melakukan hal ini? Berbicara dengan kalian, makanan kalian dan minuman kalian haram atas diriku.” Maka mereka pun berdiri meninggalkannya.
Maka istrinya keluar pergi bekerja kepada manusia, dan ia membuatkan roti untuk sebuah keluarga yang memiliki seorang putra, dan ia membuatkan mereka kue. Namun, putra mereka sedang tidur, dan mereka enggan membangunkannya, jadi mereka memberikan kuenya kepada istrinya.
Maka ia pun membawanya pulang untuk suaminya, tetapi Ayyub menolaknya dan berkata, “Apa yang engkau bawakan kepadaku, bagaimana keadaanmu hari ini?”
Sang istri pun menceritakan kisahnya. Lalu Ayyub berkata, “Mungkin anak itu sudah terbangun lalu mencari kue itu lalu tidak menemukannya, jadi dia menangis kepada keluarganya. Maka kembalikan kue ini kepadanya. Maka sang istri pun kembali hingga mencapai tangga rumah keluarga tersebut, tiba-tiba ada seekor domba mereka menanduknya, sehingga ia berkata, “Celakalah Ayub, seorang yg bersalah itu!”
Ketika ia naik, ia mendapati anak laki-laki itu telah terbangun, meminta kue sambil menangis memanggil keluarganya, ia tidak mau menerima makanan apa pun dari mereka selain roti itu.
Sang istri berkata: Semoga Allah merahmati Ayub. Maka ia memberikan roti itu kepada sang anak lalu kembali pulang.
Kemudian Iblis datang kepadanya dalam wujud seorang tabib dan berkata, “Suamimu telah lama sakitnya. Jika suamimu ingin sembuh, hendaknya ia mengambil seekor lalat dan menyembelihnya dengan nama berhala Bani Fulan. Ia akan sembuh dan ia bisa bertobat setelahnya.” Maka wanita itu pun berkata demikian kepada Ayyub.
Ayub menjawab : “Si jahat (Iblis) telah datang kepadamu. Demi Allah aku bernadzar, jika aku sembuh, aku akan mencambukmu seratus kali.”
Maka sang istri pun pergi kembali mencari nafkah, tetapi rizki masih tercegah darinya.
Diapun mendatangi penghuni rumah, namun mereka tidak menginginkan jasanya. Ketika hal ini semakin terasa berat dirasa dan ia takut Ayub akan kelaparan, sang istri pun mencukur sebagian rambutnya dan menjualnya kepada seorang anak kecil dari putri-putri bangsawan.
Maka mereka memberinya banyak makanan yang enak-enak, dan ia membawa pulang untuk Ayub. Ketika Ayub melihat makanan enak tersebut, ia tidak menyukainya dan berkata, “Dari mana engkau mendapatkan ini?”
Ia berkata, “Aku bekerja kepada beberapa orang, lalu mereka memberiku makan.” Maka Ayub pun memakannya.
Keesokan harinya, ia pergi mencari pekerjaan kembali, tetapi tidak mendapatkannya. Maka ia mencukur rambutnya kembali dan menjualnya kepada anak-anak perempuan itu. Mereka pun memberinya beberapa makanan enak lagi, lalu ia membawa pulang untuk Ayyub. Ayyub berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memakannya sampai aku tahu dari mana asalnya.”
Maka sang istri pun melepaskan kerudungnya, dan tatkala ia melihat kepala istrinya dalam keadaan gundul, sang suami pun bersedih hati dengan kesedihan yang berat. Maka ketika itu, ia berdoa kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla :
“Sesungguhnya, kesusahan telah menimpaku, dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.”
📑 Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Anbiya 83
⏩|| Saluran Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso
https://chat.whatsapp.com/EDSPbabz7ZjD7HwNvYWslK
💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo