WAJIBNYA MENAATI PEMIMPIN NEGARA, MENTERI DAN KEPALA DAERAH

??WAJIBNYA MENAATI PEMIMPIN NEGARA, PARA MENTERI DAN KEPALA DAERAH JUGA YG SEMISAL MEREKA??

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Penulis Imam Bukhari rahimahullah mengatakan :

باب السمع والطاعة للإمام

“Bab Mendengar dan Taat kepada Imam.”

Yg dimaksud Imam disini menurut para ulama adalah Pemimpin tertinggi suatu negara (penguasa) dan siapa saja yg mewakilinya maka hukumnya sama. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ yg lalu :

ومن أطاع أميره فقد أطاعه

“Barang siapa yg menaati pemimpinnya maka sungguh dia telah menaati Nabi.”

Maka wakil para penguasa dari para menteri, kepala daerah, para direktur dan para kepala kantor dan yg semisalnya, semuanya, menaati mereka itu termasuk menaati penguasa (imam). Karena mereka itu melaksanakan arahan penguasa (imam) dan perintah-perintahnya.

Apa saja yg mereka perintahkan hukumnya sama dengan yg diperintahkan Imam (penguasa). Tidak boleh membangkang terhadap mereka dan tidak boleh bermaksiat kepada mereka, kecuali kalau mereka menyuruh bermaksiat kepada Allah.

Akan tetapi jika mereka (kepala daerah) keliru dan tersesat, kita katakan, perkara ini kita angkat kepada pimpinan yg diatasnya. Kalau dia lurus dan meluruskan mereka (yg dibawahnya) maka itu yg dicari. Kalau belum lurus, maka dilaporkan kepada yg diatasnya lagi sampai kepasa penguasa tertinggi (presiden). Maka kalau sudah sampai imam tertinggi (presiden) kita berhenti.

? Syarh Shahih Bukhari Kitab Al-Fitan Wal Ahkam

القارئ: باب السمع والطاعة للإمام ما لم تكن معصية: حدثنا مسدد، قال: حدثنا يحيى بن سعيد..

الشيخ: قول المؤلف: “باب السمع والطاعة للإمام”. الإمام عند أهل العلم هو الرئيس الأعلى للدولة، ومن ناب عنه فهو في حكمه، لقول النبي صلى الله عليه وآله وسلم فيما سبق: «ومن أطاع أميره فقد أطاعه».

فنواب ولي الأمر من الوزراء والأمراء والمدراء ورؤساء الدوائر وما أشبه ذلك، كلهم طاعتهم داخلة في طاعة الإمام؛ لأن هؤلاء يأخذون بتوجيهاته وأوامره، فما أمروا به فله حكم ما أمر به، لا يجوز التمرد عليهم ولا معصيتهم إلا في معصية الله، ولكن إذا أخطأوا أو ضلوا فلنا أن نرفع الأمر إلى من فوقهم، فإن استقام وأقامهم فذاك وإلا فإلى من فوقه حتى تنتهي إلى الإمام، فإذا انتهت إلى الإمام حينئذ وقفنا.

شرح صحيح البخاري: كتاب الفتن والأحكام (5)

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

?||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo

?||_Kunjungi :
www.mahad-arridhwan.com

??????????

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *