HUKUM SEORANG WANITA NAIK MOBIL BERSAMA SOPIR PRIBADINYA

🚖🚦🏘 HUKUM SEORANG WANITA NAIK MOBIL BERSAMA SOPIR PRIBADINYA

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan :

Ada seorang penanya wanita berkata : Kami keluarga besar dan kami memiliki sopir pribadi, yang tugasnya mengantarkan kami ke sekolah atau ke pasar atau ke rumah kerabat. Apa hukum kami naik mobil bersamanya di dalam kota dan juga keluar kota? dalam keadaan tidak ada laki-laki yang bersama kami di dalam mobil.

Jawaban :

Tidak mengapa hal itu bersama sopir :

○ Apabila terdapat dua orang wanita atau lebih
○ Dan juga selama tidak ada ada perkara yang meragukan di sana.

Maka tidak mengapa untuk keluar bersama sopir ke sekolah atau selainnya untuk suatu hajat, selama tidak ada hal yang meragukan (yg mengkhawatirkan akan terjadinya dosa.)

Dan jika dimudahkan bersama para wanita ada kaum laki-laki maka itu lebih baik, dan lebih bermaslahat. Akan tetapi tidak wajib.
Bahkan cukup perkara yang bisa menghilangkan khalwat (berdua-duaan) yaitu dengan adanya wanita yang kedua atau lebih, atau adanya laki-laki yang lainnya selain sopir, yang penting terpenuhi syarat tidak ada hal yang yang dikhawatirkan akan terjadinya dosa.
Karena untuk mendapatkan mahram setiap saat itu tidak mudah bagi seorang.

Adapun apabila jarak perjalanannya itu sudah tergolong Safar, maka tidak boleh seorang wanita Safar tanpa mahram. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa salam:

لا تسافر امرأة إلا مع ذي محرم.

Tidak halal seorang wanita melakukan Safar kecuali bersama mahramnya (Muttafaqun ‘alaihi.)

Dan dia juga harus mengenakan hijab dan menjauh dari sebab-sebab fitnah, sehingga tidak terjadi kejelekan antara dia dengan sopirnya.

📑 Majmu’ fatawa 5/74

حكم ركوب المرأة مع السائق

س: سائلة تقول: نحن عائلة كبيرة، ولدينا سائق يقوم بإيصالنا إلى المدارس والأسواق والأقارب.. فما حكم ركوبنا معه داخل المدينة وخارجها.. علما بأنه لا يوجد معنا رجال في السيارة؟

ج: لا حرج في ذلك مع السائق إذا كان الموجود ثنتين فأكثر، وليس هناك ريبة، فلا بأس من الخروج معه إلى المدرسة أو غيرها للحاجة على وجه لا ريبة فيه، وإذا تيسر أن يكون معهن رجل فذلك خير وأصلح، ولكن لا يجب ذلك، بل يكفي ما يزيل الخلوة، وهو وجود امرأة ثانية فأكثر.. أو رجل آخر غير السائق مع توافر عدم الريبة؛ لأن وجود المحرم قد لا يتيسر في كل وقت لكل أحد، أما إذا كانت المسافة تعتبر سفرا فلا يجوز سفرها بدون محرم؛ لقول النبي ﷺ: لا تسافر امرأة إلا مع ذي محرم متفق على صحته.
ولابد من الحجاب والبعد عن أسباب الفتنة حتى لا يقع شر بينها وبينه.

(مجموع فتاوى 5/ 74).

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo