BAGAIMANA CARA MENASEHATI PENGUASA SESUAI SYARIAT?

BAGAIMANA CARA MENASEHATI PENGUASA SESUAI SYARIAT?

Syaikh Shalih bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah :

Pertanyaan :

Bagaimana cara menasehati penguasa menurut syariat?

Jawaban :

Menasehati penguasa itu bisa dijalankan dengan beberapa hal diantaranya:

1. Mendoakan mereka agar menjadi shaleh dan istiqamah, karena sesungguhnya termasuk dari Sunnah adalah mendoakan penguasa kaum muslimin, lebih-lebih di waktu-waktu yang diijabahi (dikabulkan) doanya, dan di tempat-tempat yang diharapkan di sana dikabulkan doa. Imam Ahmad rahimahullah mengatakan :

لو كان لنا دعوة مستجابة لدعونا للسلطان

“Kalau seandainya kami miliki doa yang dikabulkan, niscaya kami akan mendoakan untuk kebaikan penguasa.”

Tatkala baiknya penguasa itu akan membuat baik masyarakatnya, dan di dalam rusaknya penguasa akan menjadi rusak pula masyarakatnya.

2. Termasuk menasehati (berlaku tulus) kepada penguasa adalah dengan menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang diembankan kepada para pegawai.

3. Termasuk menjalankan nasehat kepada mereka adalah dengan mengingatkan mereka dari kesalahan dan kemungkaran yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, yang mereka tidak mengetahuinya.
Akan tetapi hal ini dilakukan dengan cara rahasia antara yang menasehati dengan mereka (penguasa).

Bukan menasehati dengan terang-terangan di hadapan manusia atau di atas mimbar, karena cara-cara seperti ini akan bisa membangkitkan kejelekan dan menimbulkan permusuhan antara penguasa dengan rakyatnya.

Dan bukanlah termasuk menasehati tatkala seorang insan membicarakan kesalahan penguasa di atas mimbar-mimbar atau di atas kursi dihadapan manusia.
Ini tidak akan bisa mendatangkan kemaslahatan akan tetapi akan semakin menambah kejelekan.

Sesungguhnya menasehati itu dengan cara engkau menghubungi penguasa tersebut secara pribadi, atau dengan tulisan, atau melalui sebagian orang yang punya hubungan dengan mereka.

Engkau sampaikan nasehatmu secara sembunyi-sembunyi antara engkau dengan mereka.

Bukanlah termasuk menasehati, tatkala engkau menulis nasehat lalu engkau bawa berkeliling di tengah manusia, agar setiap orang bertanda tangan padanya. Engkau mengatakan ini adalah nasehat.
Bukan! ini adalah membeberkan aib, ini tergolong perkara yang menyebabkan kejelekan dan akan membuat senang para musuh dan para pengikut hawa nafsu akan bisa ada mengintervensi di dalamnya.

📑 Al-Ajwibah Al-Mufidah 98-100

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo