Keluarga

SEKALIPUN ISTRI PUNYA PENDAPATAN, SUAMI TETAP WAJIB MENAFKAHI.

🍃🏘🌷SEKALIPUN ISTRI PUNYA PENDAPATAN, SUAMI TETAP WAJIB MENAFKAHI.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :

وعلى هذا، فإذا كانت الزوجة موظفة؛ فلا يحل لزوجها أن يأخذ شيئا من راتبها، ويجب عليه أن ينفق عليها وإن كان راتبها أكثر من راتبه.

Maka atas dasar ini, apabila istrinya itu seorang pegawai maka tidak halal bagi suaminya untuk mengambil sedikit saja dari gajinya, dan wajib atas dia untuk memberi nafkah kepada istrinya. Walaupun gaji sang istri lebih besar daripada gajinya.

وما يفعله بعض الأزواج الظلمة من إرغام المرأة على أن تعطيه شيئا من راتبها، أو يهددها بالطلاق؛ فإن حسابهم على الله عز وجل، وهم بذلك آثمون.

Dan apa yang dilakukan oleh sebagian suami yang zalim yang memaksa istrinya untuk memberikan sebagian gajinya kepadanya, atau mengancam akan menceraikannya, maka sesungguhnya mereka akan dihisab oleh Allah, dan mereka dalam keadaan berdosa.

فإذا قال: أنا باستطاعتي أن أمنعها من
الوظيفة.
قلنا: هذا ليس إليك، إذا كانت قد شرطت عليك في العقد أن تبقى على وظيفتها، ولا يحل لك من راتبها شيء، ويجب عليك الإنفاق کاملا.

Maka jika suami mengatakan : Kalau saya mau, saya akan melarang dia untuk bekerja.
Kita katakan : Urusan ini bukan di tanganmu, apabila dia mempersyaratkan kepadamu ketika akad untuk dia tetap menjalani pekerjaannya, maka tidak halal bagimu mengambil gajinya sedikit. Dan engkau wajib memberikan nafkah secara sempurna kepadanya.

لكن لو لم تشترط في العقد أن تبقى على وظيفتها، ثم اصطلح الزوج معها على أن يكون له شيء من الراتب ويبقيها في وظيفتها؛ فلا بأس.

Akan tetapi kalau seandainya dia tidak mempersyaratkan dalam akad nikah, untuk tetap bisa bekerja, kemudian suaminya dalam keadaan berdamai dengannya untuk mendapatkan sebagian dari gajinya, lalu dia membiarkan istrinya untuk bekerja, maka tidak mengapa.

فلو قال: أنتِ غنية؟
قيل له: ليس الإنفاق على الزوجة من باب دفع الحاجة، ولكن من باب المعاوضة، كما أنك تستمتع بها فعليك نفقتها.

Kalau seandainya ia berkata : Engkau wahai istri adalah orang kaya.
Maka dikatakan kepada sang suami : Bukanlah nafkah kepada istri itu dalam rangka untuk menutupi hajatnya. Akan tetapi dalam rangka untuk memberi imbalan, sebagaimana engkau telah bersenang-senang dengan istrimu, maka engkau wajib memberikan nafkah kepadanya.

📑 Syarh ‘UmdatIl Ahkam 2/592

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo