tholibul ilmi

KEUTAMAAN ILMU AGAMA DI ATAS HARTA KEKAYAAN (bagian ketiga)

‌📚🚦🌻 KEUTAMAAN ILMU AGAMA DI ATAS HARTA KEKAYAAN
(bagian ketiga)

Ibnu al-Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata :

21. Orang-orang yang berakal dari umat-umat terdahulu bersepakat akan tercelanya sifat serakah mengumpulkan harta, bersemangat padanya, menganggap rendah dan meremehkannya. Mereka juga sepakat memuji sifat tamak dalam mengumpulkan ilmu dan meraih ilmu. Dan mereka memujinya mencintainya dan memandang hal itu sebagai kesempurnaan.

22. Mereka bersepakat   memuliakan orang yang zuhud terhadap harta, yang berpaling dari mengumpulkan harta, yang tidak menoleh kepadanya, dan yang tidak diperbudak oleh harta. Mereka juga bersepakat akan tercelanya orang yang zuhud terhadap ilmu, tidak peduli dengan ilmu, tidak bersemangat mempelajari ilmu.

23. Harta itu pemiliknya akan terpuji tatkala ia melepaskannya dan memberikannya (dalam infaq), sedangkan ilmu itu dipuji karena berhias dengan ilmu dan menerapkan sifat-sifat ilmu.

24. Sesungguhnya harta itu beriringan dengan rasa takut dan kesedihan. Pemilik harta merasa sedih sebelum memperolehnya dan takut setelah memperolehnya. Semakin besar harta, semakin kuat rasa takutnya (akan dicuri-pen). Sedangkan, ilmu itu beriringan dengan keamanan, kegembiraan, dan kebahagiaan.

25. Sesungguhnya orang kaya pasti akan kehilangan kekayaannya, dia tersiksa dan menderita setelah kehilangannya. Sedangkan, ilmu itu tidak akan lenyap, dan pemiliknya tidak akan tersiksa atau merasa sakit. Maka lezatnya harta akan sirna dan cepat berlalu, diiringi rasa sakit. Sedangkan kelezatan ilmu sifatnya abadi dan terus menerus, tidak diiringi rasa sakit.

26. Sesungguhnya kesenangan dan kesempurnaan jiwa dalam menikmati harta itu seperti menghiasi diri dengan pakaian pinjaman, yang suatu hari nanti pasti akan dikembalikan kepada pemiliknya. Adapun berhiasnya jiwa kesempurnaannya dengan ilmu itu seperti menghiasi diri dengan sifat yang menetap dan tak terpisahkan.

27. Kaya dengan harta adalah kemiskinan jiwa yang hakiki, dan kaya akan ilmu adalah kekayaan jiwa yang hakiki. Kekayaan akan ilmu adalah kekayaan sejati, dan kaya akan harta adalah kefaqiran.

28,. Seorang yang dimuliakan dan dihormati karena kekayaannya, jika kekayaannya hilang, maka kemuliaan dan kehormatannya akan sirna. Sedangkan barang siapa dimuliakan dan dihormati karena ilmunya tidak akan bertambah kecuali semakin semakin mulia dan dihormati.

29. Memuliakan sesorang karena hartanya hakikatnya adalah menghinakannya, karena itu adalah pengakuan atas kekurangannya. Kalau bukan karena hartanya, niscaya ia pantas untuk direndahkan dan dihinakan. Sedangkan, memuliakan seorang dan menghormatinya karena ilmu adalah inti dari kesempurnaannya, tatkala dia memang dimuliakan karena sebab dirinya dan sifatnya yang ada pada dirinya, bukan karena sebab luar dari dirinya.

30. Sesungguhnya seorang yang mencari kesempurnaan dengan harta itu seperti orang yang ingin mengumpulkan dua hal yang saling bertentangan, mustahil bisa meraihnya.

📑 Miftah Daar As-Sa’aadah 1/130.

⏩|| Saluran Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso
https://chat.whatsapp.com/EDSPbabz7ZjD7HwNvYWslK

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo