SEJARAH AWAL DIWAJIBKANNYA SHALAT LIMA WAKTU
🕌🌻📚 SEJARAH AWAL DIWAJIBKANNYA SHALAT LIMA WAKTU
Al-Ustadz Muhammad As-Sarbini hafizhahullah.
Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Rajab menukilkan ijmak bahwa awal diwajibkannya shalat lima waktu adalah pada malam peristiwa lsra Mikraj yang terjadi sebelum Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah.
Akan tetapi, terjadi silang pendapat mengenai penentuan tahunnya. Ada yang mengatakan setahun sebelum hijrah. Ada yang berpendapat tiga tahun sebelum hijrah, Ibnu Rajab mengatakan bahwa ini yang paling masyhur. Ada yang berpendapat empat tahun sebelum hijrah..
Pada hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :
فرضَتْ عَلَى النَّبى ﷺ ليلة أسرى به الصلوات الخمسين، ثم نقصت حتى جُعِلَتْ خَمْسًا، ثُمَّ نُودِيَ : يَا مُحَمَّدًا إِنَّهُ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدي وَإِن لك بهذه الخمس خمسين.
“Shalat difardhukan atas Nabi ﷺ pada malam peristiwa Isra Mikraj, mulanya sebanyak lima puluh shalat, kemudian dikurangi sampai menjadi lima shalat. Kemudian. Nabi ﷺ dipanggil. “Wahai Muhammad! Ketetapan yang telah Kunyatakan tidak bisa diubah lagi dan sesungguhnya lima shalat itu (bernilai) lima puluh shalat bagimu.”
[Hadits shahih, riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi]”
Keesokan harinya, Jibril datang mengajari Nabi ﷺ tata cara pelaksanaan shalat lima waktu dan waktu-waktunya. Jibril pertama kali datang ketika matahari telah tergelincir ke arah berat untuk mengajari Nabi shalat Zuhur. Jadi, shalat pertama yang dikerjakan oleh Nabi ﷺ shalat shalat Zuhur. Ibnu ‘Abdil Barr menukil bahwa tidak ada silang pendapat tentang ini. Asy-Syaukani mengatakan bahwa ini pendapat yang masyhur. Hadits Jabir riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasai yang merupakan hadits paling sahih dalam masalah waktu-waktu shalat telah menunjukkan hal ini.
Pada mulanya, selama di Makkah, jumlah rakaat setiap shalat hanya dua rakaat, kecuali Magrib yang jumlah rakaatnya tiga. Setelah Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, jumlah rakaat disempurnakan menjadi empat rakaat kecuali shalat Subuh tetap dua rakaat-karena bacaannya panjang dan Magrib tetap tiga rakat-karena merupakan witir siang.
Ibnu Rajab berkata, “Ishak bin Manshur menukil dari Ishak bin Rahawaih bahwa ia berkata, “Seluruh shalat yang dikerjakan oleh Nabi ﷺ di Makkah dua-dua rakaat, kecuali Magrib tiga rakaat. Kemudian setelah Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau menambahkan dua rakaat atas dua rakaat sebelumnya, kecuali shalat Fajar dan Magrib tetap seperti sediakala.” Demikian pula keterangan al-Albani dan Shalih al-Fauzan.
Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :
فرِضَتِ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ هَاجَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا وَتُرِكت صَّلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأُولى.
“Dahulu Shalat difardukan dua rakaat (di Makkah). Kemudian, Rasulullah ﷺ berhijrah dan difardukan menjadi empat rakaat, sedangkan shalat dalam safar tetap dua rakaat.”
[Muttafaq alaih, ini lafazh Bukhari]
📑 Fikih Shalat Sesuai Sunah 18-19
⏩|| Saluran Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso
https://chat.whatsapp.com/EDSPbabz7ZjD7HwNvYWslK
💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo