MENEPIS KERANCUAN BERPIKIR PARA PENYEMBAH KUBUR
🚦📚🌻 MENEPIS KERANCUAN BERPIKIR PARA PENYEMBAH KUBUR
Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahumullah
Pertanyaan :
Mengenai pernyataan penanya: Orang Musyrikin berkata, “Kami tidak menyembah mereka (berhala) kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah,” mereka mengakui peribadatan.
Tetapi para penyembah kubur zaman ini tidaklah mengatakan, kalau mereka menyembah penghuni kubur, melainkan mereka mengatakan bahwa mereka sekedar mencari berkah dari penghuni kubur?
Jawabannya adalah :
Yang jadi ukuran adalah hakikat dan maknanya, bukan dengan perbedaan kata-kata.
Jadi jika mereka berkata: Kami tidak menyembah penghuni kubur, tetapi kami sekedar mencari berkah dari mereka (tabarruk), hal itu tidak akan bermanfaat bagi mereka. Selama mereka telah melakukan perbuatan orang-orang musyrik sebelum mereka, meskipun mereka tidak menyebutnya sebagai ibadah, tetapi menyebutnya tawassul (mencari perantara) atau tabarruk (mencari berkah).
Jadi, keterikatan kepada selain Allah, dan berdoa kepada orang mati, para nabi, dan orang-orang saleh, dan mempersembahkan kurban kepada mereka, atau bersujud kepada mereka, atau memohon pertolongan kepada mereka.
Semua itu adalah ibadah, meskipun mereka menyebutnya khidmah, atau penamaan lainnya.
Karena yang jadi ukuran adalah kenyataan, bukan pada namanya, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Yang semisal ini juga, adalah kisah sekelompok orang yg pergi bersama Nabi ﷺ ke Hunain, ketika mereka melihat perbuatan kaum musyrik yang menggantungkan senjata mereka di pohon bidara (untuk tujuan mencari berkah dari daun Bidara yg mereka keramatkan), mereka berkata :
يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط،
“Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami pohon Bidara keramat seperti yang mereka miliki.”
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
الله أكبر قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة.
“Allahu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Musa: ‘Buatlah bagi kami tuhan seperti tuhan-tuhan yang mereka miliki.’
Beliau menjadikan pernyataan mereka sama, meskipun orang-orang itu berkata: ‘Buatlah bagi kami pohon bidara keramat.’
Beliau menjadikan pernyataan mereka sama dengan pernyataan Bani Israel karena yang jadi ukuran terletak pada makna dan hakikatnya, bukan pada kata-katanya.”
📑 Majmu’ Al-Fatwa 3/139
⏩|| Saluran Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso
https://chat.whatsapp.com/EDSPbabz7ZjD7HwNvYWslK
💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo