Aqidah

DOSA MENCELA SAHABAT SANG PENULIS WAHYU, MUAWIYAH BIN ABI SUFYAN.

📚📌🌻 DOSA MENCELA SAHABAT SANG PENULIS WAHYU, MUAWIYAH BIN ABI SUFYAN.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Apa hukumnya bagi seseorang yang menghina Sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan dari kalangan Ahlus Sunnah?

Jawaban :

Tidak diragukan lagi bahwa ia telah berbuat maksiat dan dosa. Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, adalah salah satu Khalifah kaum muslimin dan salah satu penulis wahyu untuk Rasulullah ﷺ. Jika Rasulullah ﷺ mempercayakan kepadanya tugas menuliskan wahyu, yang merupakan salah satu amanah terbesar, maka dia memang orang yang dipercaya.

Tidak diperbolehkan menghinanya karena perselisihan yang terjadi antara dia dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Karena perselisihan tersebut berasal dari ijtihad.
Dan seorang Mujtahid itu mendapatkan satu pahala atau dua pahala.

Jika dia keliru, dia mendapat satu pahala, dan jika dia benar, dia mendapat dua pahala.

Kita tidak ragu bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu lebih dekat kepada kebenaran daripada Mu’awiyah, tetapi kita tidak mencela Mu’awiyah atas apa yang terjadi, karena itu bersumber dari ijtihadnya.

Oleh karena itu dikatakan dalam kitab Aqidah: “Kita mendiamkan perang antara para Sahabat, karena apa yang terjadi di antara mereka berdasarkan ijtihad semata.”

Dalil hal ini, yaitu mencela Mu’awiyah, sebagaimana yang disangka oleh orang yang mencela, adalah kemenangan Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu.

Sementara Ali ibn Abi Talib berkata: “Aku berharap aku dan Mu’awiyah akan termasuk di antara orang-orang yang tentangnya Allah berfirman:

عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ.

Di atas ranjang-ranjang (di surga) yang saling berhadapan.
[QS.Al-Hijr: 47]

Lebih lanjut, Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu diangkat menjadi Khalifah atas isyarat Nabi ﷺ. Karena Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu, yang lebih baik daripada saudaranya Al-Hussain, Nabi ﷺ bersabda tentangnya: “Anakku ini adalah seorang pemimpin, dan dengannya Allah akan mendamaikan dua kelompok muslimin yang saling berperang.”

Maka Nabi Muhammad ﷺ menjadikan mengalahnya Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu anhu dari kekhalifahan dan menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah sebagai bentuk perdamaian, dan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap Muawiyah radhiyallahu ‘anhu.

Tidak samar lagi bagi umat Islam bahwa Al-Hasan lebih baik daripada Al-Hussain, radhiyallahu ‘anhuma.

Sesungguhnya dalam peristiwa peperangan ini, Ali lebih dekat kepada kebenaran. Namun kita juga mencintai Mu’awiyah, dan kita melihat bahwa dia adalah seorang khalifah dengan kekhalifahan yang sah, dan bahwa apa yang terjadi darinya adalah melalui ijtihad yang tidak benar, dan setiap orang bisa salah, bisa benar.

📑 Liqa Al-Baab Al-Maftuuh 232/13

⏩|| Saluran Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso
https://chat.whatsapp.com/EDSPbabz7ZjD7HwNvYWslK

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo