INILAH TATACARA BERDOA YG HAMPIR TIDAK AKAN DITOLAK OLEH ALLAH.
🍃🌻 INILAH TATACARA BERDOA YG HAMPIR TIDAK AKAN DITOLAK OLEH ALLAH.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan :
“Jika terkumpul dalam doa, hadirnya hati, konsentrasi hati seluruhnya terhadap yg diminta,
⏰ Bertepatan dengan satu waktu dari waktu-waktu dikabulkannya doa yg enam, yaitu :
° Sepertiga malam terakhir,
° ketika adzan,
° antara adzan dan iqamat,
° di penghujung akhir shalat lima waktu,
° Ketika Imam naik ke mimbar hari jumat sampai ditunaikannya shalat hari itu
° dan di akhir waktu selepas ashar.
Dan bertepatan dengan khusyuk dalam hati, diiringi remuknya hati di hadapan Rabb, rasa hina diri dihadapan Nya, rasa tunduk dan kelembutan.
Orang yg berdoa menghadap kiblat, ia berada dalam keadaan suci dari hadats, mengangkat kedua tangannya kepada Allah.
Dia memulai dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad, hamba dan Rasul Nya shallallahu alaihi wasallam, lalu ia mendahulukan dengan taubat dan istighfar sebelum menyampaikan hajatnya.
Kemudian ia masuk menghadap Allah, merengek-rengek kepada Nya dalam memohon, doanya dia iringi dengan rasa harap-harap cemas, ia bertawasul dengan menyebut Asma dan Sifat Nya dan mentauhidkan Nya
Dia mendahului doanya dengan sedekah.
Maka doa yg begini hampir tidak akan ditolak selamanya.
Lebih-lebih jika ia mencocoki memakai doa-doa yg Nabi shallallahu alaihi wasallam kabarkan kalau doa tersebut diduga kuat dikabulkan, atau mengandung Nama Allah Yg Agung.”
📑 Ad-Daa’u Wa Ad-Dawa’u 14-15
🔖 كيفَ تَدعُو بِدُعَاءٍ لَا يَكَادُ يُرَدُّ أبدًا؟
« إذا اجتمَعَ معَ الدُّعاءِ حُضورَ القلبِ وجَمعِيَّتَهُ بِكُلِّيَّتِهِ على المطلُوبِ، وصادفَ وقتًا مِن أوقاتِ الإجابةِ السِّتَّةِ، وهِيَ:
١. الثُّلُثُ الأخيرُ مِنَ اللَّيلِ،
٢. وعِندَ الأذانِ،
٣. وبَينَ الأذانِ والإقامَةِ،
٤. وأدبارُ الصَّلواتِ المكتُوباتِ،
٥. وعِندَ صُعودِ الإمامِ يومَ الجُمُعَةِ على المِنبَرِ حَتَّى تُقضَى الصَّلاةُ مِن ذلِكَ اليومِ،
٦. وآخِرُ ساعَةٍ بَعدَ العَصرِ.
وصادَفَ خُشُوعًا في القلبِ،
وانكِسارًا بَينَ يَدَيِ الرَّبِّ،
وذُلًّا لهُ، وتَضرُّعًا، ورِقَّةً،
واستَقبَلَ الدَّاعي القِبلةَ،
وكانَ على طَهارةٍ،
ورَفعَ يَدَيهِ إلى اللهِ،
وبَدأ بحَمدِ اللهِ والثَّناءِ عَليهِ، ثُمَّ ثَنَّى بالصَّلاةِ على مُحمَّدٍ عَبدِهِ ورَسُولِهِ -صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ-، ثُمَّ قَدَّمَ بَينَ يَدَي حاجَتِهِ التَّوبةَ والاستِغفارَ،
ثُمَّ دَخلَ على اللهِ،
وألَحَّ عَليهِ في المَسألَةِ،
وتَمَلَّقَهُ ودَعاهُ رَغبةً ورَهبةً،
وتَوَسَّلَ إليهِ بأسمائِهِ وصِفاتِهِ وتَوحيدِهِ،
وقَدَّمَ بَينَ يَدَي دُعائِهِ صَدَقَةً؛
فَإنَّ هَذا الدُّعاءَ لا يَكادُ يُرَدُّ أبَدًا!
ولا سِيَّما إن صادَفَ الأدعِيَةَ الَّتي أخبرَ النَّبِيُّ -صلَّى اللهُ عَليهِ وسلَّمَ- أنَّها مَظَنَّةُ الإجابَةِ، أو أنَّها مُتَضَمِّنَةٌ للاسمِ الأعظَمِ ».
ابنُ القَيِّم -رَحِمَهُ اللهُ-.
[ الدَّاءُ والدَّوَاءُ || ١٤-١٥ ]
⏩|| Grup Whatsapp Ma’had Ar-Ridhwan Poso
💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo