LARANGAN MENCELA ORANG YANG SUDAH MATI

🍃🌻 LARANGAN MENCELA ORANG YANG SUDAH MATI

Syaikh Abdullah Al-Bassaam rahimahullah

Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

لا تَسُبُّوا الأمواتَ، فَإنَّهُمْ قَدْ أفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّموا.

Janganlah kalian mencela orang yang sudah mati, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa yang mereka perbuat.
[HR. Bukhari]

1⃣ Hadits ini menunjukkan akan haramnya mencela orang yang sudah mati, dan ini berlaku umum, apakah mereka kaum muslimin ataukah orang kafir.
Hikmah larangan ini sebagaimana disebutkan dalam hadits :
Karena ia (yang sudah mati) telah sampai kepada apa yang mereka perbuat.
Yakni, mereka telah sampai kepada apa yang mereka persembahkan berupa amalan, sama saja apakah amalan shalih ataukah amalan jelek.

2⃣ Orang yang sudah mati, tidak ada faedahnya mencela mereka dan menjatuhkan kehormatan mereka dan menghitung-hitung kejelekan dan amalan mereka, karena hal itu akan menyakiti kerabat mereka yang masih hidup.
Ibnul Atsir rahimahullah berkata : Ketika Ikrimah bin Abi Jahl masuk Islam, manusia mengatakan : Ini anaknya musuh Allah Abu Jahal. Maka hal itu menyedihkannya, lalu ia mengadu kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda :

Janganlah kalian mencela ayahnya, karena mencela orang yang sudah mati akan menyakiti keluarganya yang masih hidup.

3⃣ Dikecualikan dari hal itu adalah jika dalam menyebutkan kejelekan mayit ada faedah, dan tidak ada maksud merendahkan mereka dan berbuat ghibah kepada mereka. Akan tetapi untuk tujuan menjelaskan hakikat (kebenaran) dan memperingatkan manusia dari kesalahan mereka (seperti kebidahan-pen), yang demikian seperti menjarh para rawi hadits.

4⃣ Imam Nawawi rahimahullah berkata :
“Ketahuilah, sesungguhnya ghibah itu dibolehkan untuk tujuan yang dibenarkan syariat, yang tidak mungkin tercapai kecuali dengan hal itu.”

5⃣ Madzhab Ahlussunnah waljamaah terkait orang yang sudah meninggal, Sesungguhnya kita berharap untuk orang yang berlaku baik Allah akan membalas kebaikannya dengan pahala, merahmatinya dan tidak mengadzabnya. Dan kita mengkawatirkan orang yang berlaku jelek akan disiksa karena dosa-dosa dan kejelekannya. Dan kita tidak memastikan siapapun dengan surga atau neraja kecuali orang-orang yang dipersaksikan oleh Nabi ﷺ. Dan dilarang berburuk sangka dengan seorang muslim yang lahiriyahnya baik, berbeda dengan orang yang nampak lahiriyahnya fasiq, maka tidak mengapa berburuk sangka terhadapnya.

📑 Taudhih al-Ahkam 7/450-451

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo