RINCIAN HUKUM MENUTUPI AIB DAN KESALAHAN SESEORANG

⚖🔭🚦RINCIAN HUKUM MENUTUPI AIB DAN KESALAHAN SESEORANG

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Menutupi aib saudara seiman ada tiga keadaan,

1⃣ Jenis pertama, ditutupi aibnya menjadi baik.
Seperti engkau melihat seorang yang berakhlak mulia, agamanya dan penampilannya bagus, memiliki perangai bagus, engkau melihat dia dalam kesalahan, engkau tahu orang ini melakukan kesalahan dan dia telah menyesalinya. Maka semisal orang ini jika ditutupi aibnya akan terpuji dan ditutupinya menjadi kebaikan.

2⃣ Jenis kedua, ditutupi aibnya justeru menjadi jelek.
Seperti seorang yang engkau dapati sedang bermaksiat, atau sedang bermusuhan dengan manusia. Jika engkau menutupi kesalahannya, tidak menambah kecuali kejelekan dan semakin menjadi-jadi. Maka di sini jika ditutupi aibnya akan tercela, dan wajib untuk disingkap perkara jelek orang ini kepada orang yang bisa mendidiknya. Jika dia seorang isteri, maka dilaporkan kepada suaminya, jika dia anak kecil, maka dilaporkan kepada orang tuanya, jika dia seorang guru, maka dilaporkan kepada kepala sekolahnya, demikian seterusnya.

3⃣ Jenis ketiga, dalam keadaan tidak diketahui apakah jika ditutupi akan menjadi baik atau jika di singkap akan menjadi baik.
Maka hukum asalnya adalah ditutupi itu baik. Oleh karena itu dalam sebuah atsar disebutkan :
Sungguh saya keliru dalam memaafkan itu lebih baik daripada saya keliaru dalam menghukum.
Oleh karena itu kita katakan, jika engkau ragu apakah ditutupi lebih baik atau dijelaskan kesalahannya itu baik, maka ditutupi itu lebih utama.
Akan tetapi dalam keadaan perkara ini terus diikuti, jangan dibiarkan. Karena terkadang ternyata orang ini tidak pantas untuk ditutupi kesalahannya.

📑 Syarh Al-Arba’in 390-391

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo