SEANDAINYA MERAYAKAN ISRA MI’RAJ ITU BAIK, TENTU NABI ﷺ DAN PARA SAHABATNYA DULU SUDAH MERAYAKANNYA..

🍃🌻 SEANDAINYA MERAYAKAN ISRA MI’RAJ ITU BAIK, TENTU NABI ﷺ DAN PARA SAHABATNYA DULU SUDAH MERAYAKANNYA..

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwasanya malam 27 Rajab adalah malam Isra dan Mi’raj, lalu mereka mengadakan perayaan padanya.
Dan ini adalah sesuatu yang tidak ada dasarnya.

Dan malam Isra Mi’raj itu tidak diketahui pastinya, dan ini adalah hikmah Allah, tatkala Dia menjadikan manusia lupa waktunya, yang demikian ini merupakan sebab agar manusia tidak berlaku ghuluw (berlebihan)

Dan peristiwa ini benar, maka Allah memperjalankan Nabi-Nya ke Masjidil Aqsha kemudian mengangkatnya ke langit, sebagaimana Allah berfirman :

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa.”
[QS. Al-Isra 1]

Ini adalah perkara yang pasti tidak ada keraguan lagi.
Akan tetapi malam yang terjadi padanya peristiwa ini tidak diketahui tepatnya.

Barang siapa yang mengatakan itu adalah malam ke-27 dari bulan Rajab, maka dia telah salah, dia tidak memiliki dalil.
Dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang hal itu adalah dhaif (lemah).

Seandainya diketahui dan kita bisa memastikannya bahwa itu malam 27, atau selainnya, kita tetap tidak disyariatkan untuk menghidupkan malam tersebut dengan beribadah, atau perayaan.
Karena ini adalah bid’ah.

Kalau seandainya disyariatkan, niscaya Nabi ﷺ terlebih dahulu merayakannya, juga para khalifah rasyidin dahulu merayakannya, atau para sahabat.

Maka tatkala mereka tidak merayakannya baik di saat Nabi ﷺ masih hidup ataukah sudah wafatnya, ini menunjukkan bahwasanya merayakan isra’ Mi’raj itu adalah bid’ah, dan kita tidak boleh mengada-ada satu perkara dalam dalam syariat.

Dan Allah mencela satu kaum :

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ

“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridai) Allah?”
[QS. Asy-Syura: 21]

Dan Allah juga berfirman tentang hak Nabi-Nya :

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ
إِنَّهُمۡ لَن يُغۡنُواْ عَنكَ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـٔٗاۚ

Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.
Sungguh, mereka tidak akan dapat menghindarkan dari engkau sedikit pun dari (azab) Allah.”
[QS. Al-Jaatsiyah 18-19]

Maka Allah memerintahkan untuk berpegang dengan syariatNya saja, dan mengingkari orang-orang yang menyelisihi syariat atau mengada-ngada suatu perkara yang Allah tidak syariatkan.

Beliau juga bersabda :

مَن أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردٌّ

“Barangsiapa yang mengada-ada satu perkara dalam urusan kami (dalam agama kami) yang bukan berasal darinya, maka ini tertolak.”

Beliau juga bersabda :

خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمدٍ ﷺ، وشرّ الأمور مُحدثاتها، وكل بدعةٍ ضلالة.

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, dan setiap bidah itu sesat.”

Maka tidak boleh merayakan malam 27 rajab sebagai malam Isra Mi’raj, tidak juga merayakan malam yang lainnya, yang Allah tidak syariatkan untuk merayakannya.

📑 Fatawa Ad-Durus

https://tinyurl.com/2p9bbr99

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo