BERAPA LAMA BATASAN MENGQASHAR DAN MENJAMAK SHALAT BAGI MUSAFIR YANG TINGGAL DI SATU DAERAH

🏘✈️🚦BERAPA LAMA BATASAN MENGQASHAR DAN MENJAMAK SHALAT BAGI MUSAFIR YANG TINGGAL DI SATU DAERAH

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan:

Saya ingin menjelaskan kepada syaikh yang mulia satu topik pembahasan yang saya pernah meminta fatwa kepada anda sejak lama, yaitu masalah meng-qashar dan menjamak shalat di kala safar bagaimanapun lamanya. Tatkala pendapat-pendapat dalam perkara ini sangat banyak, saya berharap dari yang mulia untuk menjelaskan kepada saya dua perkara :
1. Yang pertama safar ke luar negeri Saudi, apakah boleh pergi saya mengqashar dan menjamak, sekalipun lama waktunya. Tatkala saya kadang-kadang lebih dari dua bulan, dalam keadaan saya tidak bisa shalat menggunakan baju Eropa, maka saya terpaksa harus pulang ke tempat tinggal saya untuk shalat, dan saya menjamak dan meng-qashar shalat itu lebih nyaman. Apa hukumnya, bolehkan saya menjamak dan meng-qashar atau tidak?
2. Yang kedua, saya sering Safar ke Jeddah dan saya punya tempat tinggal di sana, tetapi tempat mukim saya adalah di Riyadh. Dan saya tinggal di sana selama kadang lebih dari sebulan, Apakah boleh bagi saya menjamak dan meng-qashar atau tidak?

Jawaban :

Saya berikan kepadamu faedah, bahwasanya safar yang diberi keringanan seorang musafir didalamnya dengan berbagai keringanan safar adalah safar yang teranggap secara adat dan kebiasaan setempat, jaraknya untuk pendekatan adalah 80 kilometer.

Barang siapa yang menempuh perjalanan sejauh ini atau lebih, maka dia diberi keringanan dengan berbagai macam rukhsah dalam safar, seperti mengusap khuf tiga hari tiga malam, atau meng-qasar salat empat rakaat menjadi dua rakaat, atau menjamak zhuhur dan Ashar di satu waktu, demikian juga Maghrib dan Isya, serta berbuka di bulan Ramadhan.

Apabila seorang musafir telah sampai di daerah yang dia tuju, dan dia berniat menetap di sana lebih dari empat hari, maka dia tidak boleh melakukan rukhsah-rukhsah safar.
Apabila dia berniat untuk tinggal di sana selama empat hari atau kurang, maka dia masih diberi keringanan dengan rukhshah-rukhshah safar.

Dan seorang musafir apabila telah tiba di satu negeri untuk menunaikan hajat, akan tetapi dia tidak tahu kapan berakhir hajatnya, dan dia tidak menentukan waktu tertentu untuk tinggal lebih dari empat hari, maka dia boleh menjalankan rukhsah safar, walaupun tinggalnya lebih dari 4 hari.

Dan memakai baju Eropa bukanlah uzur untuk mengakhirkan shalat dari waktunya, dan bukan uzur untuk menjamak dua shalat,

Tidak sepantasnya bagi seorang musafir untuk meninggalkan shalat berjamaah apabila hal itu mudah dengan alasan safar. Karena salat berjamaah itu wajib dan meng-qashar menjama’ itu rukhsah.

Semoga Allah memberikan Taufiq kepada semuanya dalam perkara yang diridhai-Nya.
Semoga Allah menolong kami dan kalian untuk segala kebaikan.

📑 Majmu Al-Fatawa 12/272

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram

http://telegram.me/ahlussunnahposo