JIKA SAFARNYA TIDAK MEMBERATKAN, TETAP BERPUASA ITU LEBIH AFDHAL

๐Ÿƒ๐ŸŒป JIKA SAFARNYA TIDAK MEMBERATKAN, TETAP BERPUASA ITU LEBIH AFDHAL

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah :

Kaidah bagi seorang musafir : sesungguhnya dia boleh memilih antara puasa dan berbuka.
Akan tetapi apabila berpuasa itu tidak memberatkan dia, maka berpuasa itu lebih afdhal karena didalamnya ada 3 faedah :

๐Ÿ”นYang pertama meneladani Nabi ๏ทบ.

๐Ÿ”นYang kedua yaitu untuk mempermudah. Kemudahan berpuasa bersama manusia, karena seorang itu apabila berpuasa bersama manusia maka itu lebih mudah bagi dia.

๐Ÿ”นDan yang ketiga, agar segera membebaskan diri dari tanggung jawab.

Kalau puasa itu terasa berat bagi dia, maka dia tidak usah berpuasa. Bukan termasuk amalan kebajikan berpuasa dikala Safar dalam semisal keadaan ini.

Karena Rasulullah ๏ทบ dulu pernah melihat seorang yang sedang dinaungi dan dikelilingi oleh manusia. Beliau mengatakan : Apa ini?
Mereka menjawab :
Ini orang sedang berpuasa.
Maka Beliau bersabda :

ู„ูŠุณ ู…ู† ุงู„ุจุฑ ุงู„ุตูŠุงู… ููŠ ุงู„ุณูุฑ.

Bukan termasuk amalan kewajiban berpuasa dikala Safar.

Hadits berlaku umum pada orang yang keadaannya semisal orang ini, yang terasa berat baginya berpuasa.

Atas dasar ini kita katakan : safar di zaman sekarang ini mudah nyaman -sebagaimana yang dikatakan oleh penanya- kebanyakannya tidak memberatkan untuk berpuasa.
Apabila tidak memberatkan berpuasa pada safar, maka yang afdhal adalah untuk tetap berpuasa.

๐Ÿ“‘ Fatawa arkan Al-Islam 467

โฉ|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso
https://chat.whatsapp.com/GPGA8RjzvS5K9K49rw7QC9

๐Ÿ’ฝ||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo