MENJAWAB SYUBHAT ORANG YG MERAGUKAN SIFAT TURUN BAGI ALLAH PADA SEPERTIGA MALAM TERAKHIR

๐Ÿƒ๐ŸŒธ MENJAWAB SYUBHAT ORANG YG MERAGUKAN SIFAT TURUN BAGI ALLAH PADA SEPERTIGA MALAM TERAKHIR

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan :

Telah maklum bahwasanya malam itu beredar diatas bumi yg bulat. Dan Allah itu Turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Maka konsekuensi hal itu setiap malam Dia berada di langit dunia. Bagaimana jawaban atas hal itu?

Jawaban :

Yang wajib atas kita semua adalah beriman dengan apa yang Allah sifatkan dan namakan DiriNya di dalam kitabNya atau melalui lisan RasulNya :
1. Tanpa Tahriif (menyelewengkan)
2. Tanpa ta’thiil (menolak SifatNya)
3. Tanpa takyiif (membagaimanakan Sifat-Nya)
4. Tanpa tamtsiil (menyerupakan dengan makhlukNya).

Maka Tahrif (menyelewengkan) dalam nash-nash.
Ta’thiil (menolak) di dalam keyakinan.
Takyif (membagaimanakan) di dalam sifat.
Tamtsil (menyerupakan) di dalam sifat juga, hanya saja Tamtsil ini lebih khusus daripada Takyif, karena Tamtsil itu adalah Takyif yang terikat dengan yang dipermisalkan.

Maka kita wajib membersihkan aqidah kita dari empat perkara yang terlarang ini.
Wajib atas setiap Insan untuk mencegah dirinya dari bertanya : “mengapa” dan “bagaimana” dalam apa-apa yang berkaitan dengan Asma Allah dan Sifat-Nya.

Demikian juga ia wajib mencegah dirinya untuk berfikir menghayal tentang Bagaimana Sifat Allah.

Dan apabila seorang insan menempuh jalan ini, niscaya dia akan banyak mengalami ketenangan.
Dan ini adalah keadaannya para Salaf Semoga Allah merahmati mereka. Oleh karena itu pernah ada seorang yang datang menghadap imam Malik bin Anas rahimahullah lalu dia bertanya :

Wahai Aba Abdillah, ayat :

ุงู„ุฑุญู…ู† ุนู„ู‰ ุงู„ุนุฑุด ุงุณุชูˆู‰

“Dzat Yang Maha Pengasih beristiwa dibatas Arsy.”
(QS. Thaha 5)

Bagaimana itu Istiwa-nya (bersemayam) Allah?

Maka Imam Malik langsung menundukkan kepalanya dan berkeringat, lalu Beliau berkata :
Istiwa (bersemayam) itu tidaklah majhul, [Yakni sudah diketahui maknanya]
Dan bagaimananya itu tidak bisa dijangkau oleh akal kita,
Beriman dengan hal ini hukumnya wajib,
Dan bertanya tentang bagaimana bersemayamnya (Istiwa) Allah itu adalah bid’ah. Dan tidaklah aku melihat dirimu, kecuali seorang ahli bidah.”

Inilah orang yang mengatakan :
“Sesungguhnya Allah itu turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir setiap malam, maka mengharuskan dari hal ini, setiap malam Allah itu berada di langit dunia. Karena malam itu senantiasa berputar di seluruh bumi.
Maka sepertiga malam itu berpindah-pindah dari tempat yang ini ke tempat yang lainnya.

๐ŸŽ™ Jawabannya, kita katakan kepadanya :

Ini adalah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan oleh para sahabat, yang semoga Allah meridhai mereka semuanya.

Seandainya hal itu terbetik di dalam hati seorang mukmin yg tunduk kepada Allah, niscaya Allah dan RasulNya akan menjelaskannya.
Dan kita katakan selama sepertiga malam terakhir itu ada di arah ini, maka sifat Turun di sana betul-betul ada. Kapan malam sudah berakhir maka sifat Turun itu berhenti.

Dan kita tidak bisa menjangkau hakikat sifat Turunnya Allah. Dan ilmu kita tidak bisa meliputi-Nya.
Dan kita mengetahui kalau bahwasanya Allah itu tidak ada sesuatupun yg serupa dengan Dia, dan wajib bagi kita untuk berpasrah diri.

Dan hendaknya kita katakan :

Kami patuh dan kami beriman kami mengikut dan kami taat. Inilah tugas kita.

๐Ÿ“‘ Fatwa Arkan Al-Islam 94-95

โฉ|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

๐Ÿ’ฝ||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo